Aku suka kesal melihat diriku dalam fotho. Tidak bisa kubayangkan malam itu telah terlewat. Terasa sekali. Malam itu merupakan malam dimana gemetarku dipertontonkan. Dimana perjuangan menghadapi raguku ditepuktangankan.
Malam itu begitu hangat, aku membacakan Sajak Anak Muda-WS Rendra di hadapan Ibu Ken Suraidah.
Terima kasih atas kesempatan ini.
Sastra Indonesia
Minggu, 04 September 2016
LELAKI DAN PRIA
Nampak dari kejauhan sebuah kedai kopi berlogo cawan besar dengan kepulan asap yang terpampang di atas sebuah bangunan yang beraromakan arsitektur Eropa. Kedai itu terhimpit antara dua gedung. Lampu – lampu kecil berwarna berkelip melingkari sebuah frasa yang bertulis Kedai Kopi Keco. Saat masuk kedalamnya, suara bel berbunyi ‘Selamat datang’ dan semerbak wangi biji kopi menyambut kedatangan para penikmat
kopi. Terdapat delapan meja yang berbaris di pinggir-pinggir ruangan, seperti barisan kursi pada bus, dengan hiasan pohon teh-teh-an menjadi pembatas untuk meja-meja lainnya. Diantara barisan meja diberikan akses jalan untuk para pelanggan yang hendak memesan kopi menuju meja bar pesanan. Kedai kopi ini memang beda dengan kedai-kedai yang lain. Sebab, tidak biasanya sebuah kedai mewah di kota besar tidak memiliki akses wifi.
‘Kalian Bukan Penikmat Kopi Biasa’ tulisan yang terpampang menjadi background
meja pesanan, seakan menandakan bahwa yang datang
ke kedai itu benar-benar pecinta kopi sejati. Di pojok ruangan kedai dekat dengan jendela, seorang pria separu baya yang mengenakan jaket ala detektif inggris berwarna abu-abu, terlihat sedang asik menikmati suasana.Terdapat
cawan putih bersisikan maciato yang mengpul di hadapannya, menandakan maciato pesanannya itu baru saja disajikan. Pria separu baya itu menikmati maciato sambil memandangi para barista yang ada di balik meja bar, sedang asik meracik kopi untuk pemesan.
“Memang, maciato ini benar-benar maknyuss, dapat membuatku lupa dengan masalahku tadi di kantor sial itu” bicara pria paru baya. Terhenti kala menyeruput maciato hangatnya. “Kenapa aku yang harus disalahkan, karena hampir satu tahun ini mobil baru yang didatangkan dari Malaysia itu tidak laku terjual. Dia pun tahu dengan report yang aku berikan atas kunjunganku. Memang brengsek !! dia hanya berbicara hasil saja, rupanya dia tidak tahu perjuanganku selama ini, belum lagi penolakan customer sialan, yang membuat hatiku sakit.” Oceh pria itu
kembali.
Pria paru baya itu kembali menyeruput kemudian menggeleng-gelengkan kepala,
terliha ia begitu menikmati maciato tersebut. Kopi yang bercampur susu itu memang menjadi icon di kedai ini. Tak jarang puji-pujian pelanggan
sering bermunculan. Pria paruh baya itu teringat pertama kali merasakan racikan maciato yang dibuat temannya waktu SMA. Entah kenapa kejadian di kantor kembali terbesit dalam pikirannya, hingga ia kembali meracau “Pusing aku minggu-minggu ini ditegur masalah jualan terus,” namun, saat sruputan ketiga kalinya,
pria itu memejamkan matanya sesaat sambil mengecap-ngecap mulutnya, menikmati
maciato yang mengalir ke dalam kerongkongan.
sudah satu jam pria itu berbicara sendiri di meja nomer tujuh. Kemudian pria itu melihat jam tangannya yang menunjukan tepat Jam 22:00. Malam pun kian larut. Pria paru baya itu makin tidak jelas,
terkadang ekspresi kesal tertuang di wajahnya, dan kadang tersenyum sendiri sehabis menegug maciato pesanannya itu.
Tak lama kemudian, suara bel sambutan kembali terdengar. Seorang lelaki mengenakan kemeja putih bercelana jeans muncul dari pintu masuk kedai, lelaki itu mengenakan kemeja putih yang terlihat
ketat, sehingga postur tubuhnya terlihat gagah. Ia berjalan menuju meja bar pesanan. Barista yang
menanggapinya, seketika langsung mengerti apa yang ia akan pesan.
“Hello, Pak. Kali ini maciato hangat
atau dingin ?” tanya barista
itu. “Yang hangat saja yaa” “Baik kalo begitu, maciato hangat segera datang”,
“Thanks” jawab lelaki gagah itu. Setelah memesan, lelaki gagah itu pun duduk di meja nomer delapan. Lelaki paru baya yang duduk di meja nomer tujuh tadi tidak menghiraukan lelaki gagah itu, karena sedang asik meracau tak jelas. Tidak menunggu lama pesanan milik lelaki gagah itu tiba. Pria paru baya yang sedang asik meracau nampak menghentikan kicauannya, hidungnya mencium harum aroma yang di keluarkan dari maciato hangat yang dibawa sang
barista melewatinya.
“Jika kau minum maciato itu, kau akan merasakan syahdu kenikmatan rasa dan aroma yang
dikeluarkannya”,
tukas pria paruh baya pada lelaki gagah, sambil mengendus dari jauh aroma maciato yang baru saja diletakan
barista ke meja lelaki gagah.
“Terima kasih yaa” ujar lelaki gagah
pada barista. “Jadi
yang kau rasakan hanya sebatas itu” sambung lelaki gagah.
“Ya. Memang kau tau apa tentang maciato itu”, tanya pria separu baya, yang sedikit mengangkat suarannya.
“Sedapnya rasa kopi itu tergantung ketenangan si peminum”
“Aku tidak mengerti apa yang kau maksud”
“Aku tahu saat ini kau sedang merasa penat, bukan ?”
“Jika kau merasakan maciato yang nikmat ini dalam ketenangan jiwa, maka kau akan dapati cita rasa yang lebih mantap dari yang kau bicarakan barusan”
“Darimana kau tau aku sedang penat saat ini ?” tanya lelaki separu baya.
“Dari awal aku masuk dan melewati mejamu aku mendengar kau sedang meracau tak jelas”
Kemudian pria paru baya itu mengerutkan alisnya dan menatap tajam si lelaki gagah.
“Aku sering mengatakan kepada temanku tentang masalah kopi, khususnya maciato kegemaranku ini, maciato ini bahan dasarnya adalah biji kopi pilihan yang dicampur
susu dengan takaran” ujar lelaki gagah, kemudian menegug maciato pesanannya. “Kopi memang memiliki sisi pahit di dalamnya, semanis kopi yang dibuat, sisi pahit dari kopi itu tidak akan hilang”, sambungnya.
“Apa maksud perkataanmu itu, sungguh aku tidak mengerti” tanya lelaki separu baya, penasaran.
“biasanya orang yang sedang penat itu pasti sedang di gandrungi masalah, entah kecil atau pun besar, yaa inilah hidup, terkadang kau merasakan kesenangan ketika kebahagiaan datang dan munculnya kesenangan itu berawal dari kesusahan” ujar lelaki gagah, lalu kembali menyeruput maciato yang masih hangat miliknya.
Seketika pria paru baya itu terdiam mendengar penjelasan yang keluar dari mulut lelaki gagah itu. Tiba-tiba seorang barista menghampiri lelaki gagah, sambil menenteng tas selempang berwarna coklat,
kemudian diserahkan kepada lelaki gagah.
“Oiya, pak. Besok saya minta izin untuk tidak masuk kerja, sebab saya mendapat kabar bahwa Ibu
saya di kampung sedang dirawat di rumah sakit” ujar barista kepada lelaki gagah, “Owh…sakit apa Ibumu, Suryo ?“ Tanya lelaki gagah, kaget mendengar info yang di sampaikan si barista. “Ibu saya sudah 2 hari di rawat di rumah sakit, karena mengidap penyakit kangker payudara, Pak”
“kalau begitu aku izinkan kau besok, dan tunggu sebentar” sambil mencari sesuatu di dalam tas coklat yang tadi dibawakan si barista. “ini untuk kamu, sekedar meringankan biaya rumah sakit Ibumu” tukas lelaki gagah sambil menyodorkan cek kepada barista yang bernama Suryo. “Terima kasih, Pak Zein. atas bantuannya, semoga kebaikan Pak Zein dibalas Tuhan” Sambil meraih dan hendak mencium tangan lelaki gagah yang ternyata bernama Zein, akan tetapi lelaki gagah itu cepat-cepat menarik tangannya yang hendak dicium.
“semoga ibumu diberi kesembuhan, yaa.”
“Amiin, Pak. Sekali lagi saya sangat
berterima kasih pada bapak” sambung barista Suryo”
“Yasudah, sebelum kedai ini closing,
beri tahu yang lain, unuk tidak pulang terlebih dulu, malam ini kita meeting”
“Siap, Pak Zein.” Kemudian si barista
meninggalkan lelaki gagah bernama Zein.
Sehabis mendengar dan melihat adegan sesaat antara Boss
dan kayawannya,
lelaki paru baya itu menyeruput tetesan terakhir maciato miliknya kemudian bergegas beranjak pulang. Lelaki paru baya itu berjalan melewati lelaki gagah yang
ternyata pemilik kedai tersebut, kemudian keluar melewati pintu kedai, dan menaiki mobil Fortuner putih.
......
Langganan:
Postingan (Atom)
